Wawancara Kerja

Jogjakarta, 2 Februari 2015

Mengaktifkan kartu IM3 setelah hari Minggu satu hari full tidak aktif. Ada sms kalau ada wawancara kerja hari ini jam 10 pagi di Dedek Mie (nama disamarkan). Saya baru ingat kalau hari Jumat lalu saya kirim beberapa lamaran kerja melalui email. Saya sms balik apakah yang dimaksud hari ini itu tanggal 2 Februari? Khawatir kalau yang dimaksud adalah kemarin. Tidak ada balasan sms. Ambil resiko, mandi, dan langsung ke lokasi. Yup, setelah dekat lokasi saya baru dapat balasan sms kalau hari ini wawancara. Ini panggilan wawancara kerja “terparah” yang pernah saya alami. Tahu kenapa? Jaraknya 2 jam sebelum wawancara dilakukan. Waktu tes seleksi awal di sebuah Perguruan Tinggi Swasta ternama di Jogja aja, saya dapat sms sore hari aja, saya sudah kaget dan bingung mencari lokasi.

Katanya KM 5, ini sudah 2 kali cari lokasi belum juga menemukan cafe-nya, saat terima sms dari pihak cafe, saya tanya ancer-ancer lokasinya, dibalaslah.

Sampai lokasi semakin terkaget-kaget karena “kecil” sekali. Saya langsung sms pihak cafe kalau saya sudah sampai lokasi. Tidak ada balasan sms. Mengamati dari jauh dua orang yang ada di cafe tersebut, mereka cuek saja.

Sekitar hampir jam setengah 11, ada orang datang menuju ke cafe dan bicara dengan pekerja. Tiba-tiba dia datang ke arah saya. Mbak, yang sms saya tadi. Iya. Dia lalu memilih kursi di samping saya, bukan di hadapan saya, sehingga saya harus pindah tempat duduk. Kami berdiri bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat. Belum sempat saya duduk, masih dalam posisi berdiri, dia mengulurkan tangannya ke arah saya, Johanes. Saya menyambut uluran tangannya, Cahya. Maaf (untuk keterlambatan kedatangannya). Oh iya.

Ternyata selain datang terlambat, dia juga sama sekali belum membaca CV-ku. Rasanya argh saya sudah tidak berminat untuk menjawab pertanyaannya, ditambah pertanyaan yang diberikan adalah close question jadi saya jawab dengan jawaban yang pendek-pendek saja.

Perkenalkan diri. ingin bekerja seperti apa profesional atau kekeluargaan? Kalau sedang ramai, banyak pelanggan gimana cara mengatasinya? Dari yang mudah dulu apa bagaimana? Kalau dapat teman kerja yang malas? Mau gaji berapa? #Saya kurang bisa berpikir cepat, harusnya bertanya standar perusahaan ini berapa? Saya malah bertanya, terlalu banyak ya? #Johanes menundukkan kepala, lalu memberikan pertanyaan baru (semacam pengalihan) itu untuk berapa lama? Satu bulan. Bisa masak? Daftarnya kerja apa? Pernah kerja part time? Itu kalau dengan teman kerja, kalau dengan atasan berkonflik? Setelah wisuda, masih mau di Jogja tahun depan? Saya jawab belum tahu dengan pasti dan tidak berani memastikan. Ingin atasan yang seperti apa? Ada yang mau ditanyakan? Ga. #Dia tampak grogi. Ada yang ditanyakan? Dia jawab sendiri oh ya ga. Tunggu pengumumannya satu minggu lagi.

Saya mengulurkan tangan, Johanes menyambutnya. #Dan saya sudah tahu jawaban dengan pasti kalau saya ditolak bekerja di sana. Hahaha.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s