Rampok?

Yogyakarta, 15 Oktober 2014

Ilustrasi pertama kisah fiksi.

Manggil kumpulan orang. Ini ada beberapa barang, bisa diambil? Bisa.

Dengan wajah sengak, dan gaya bicara yang nadanya sangat menyebalkan. Ini masih bisa nyala? Bisa, cuma perlu diceklek beberapa kali.

Orang satunya, ini masih layak pakai? Dengan muka sopan, dengan nada sopan, tapi pertanyaan yang menurut saya tidak sopan. Masih (menjawab dengan nada sudah mulai sebal).

Layak atau bagus itu versi siapa dulu? Orang jetset pakai kaos tidak bermerek atau diberi kaos tidak bermerek dengan harga 30 ribu dalam kondisi baru, mungkin dianggap tidak layak pakai.

Ilustrasi kedua kisah fiksi.

Orang yang memiliki motor butut memberi gorengan 5 biji kepada orang yang memiliki mobil mahal. Orang yang memiliki mobil mahal belum pernah mentraktir orang yang memiliki motor butut bahkan dengan sebungkus permen. Orang yang punya mobil mahal, lalu berkata di depan teman-temannya dan di depan orang yang punya motor butut, eh ini orang yang punya motor butut pelit banget, hahaha. Teman-temannya hanya terdiam. Yang punya motor butut malunya bukan main telah dipermalukan.

Terkadang manusia mudah mencari cela orang lain, tapi dia lupa dengan celanya sendiri. (Orang yang punya motor butut baru mampu memberi 5 gorengan ke yang punya mobil mahal, karena baru segitu kemampuannya memberi).

Ilustrasi ketiga kisah fiksi.

Masuk ke sebuah komunitas atau pertemanan. Ternyata teman-temannya di komunitas bukanlah orang yang seperti dia harapkan. Membeli barang jualan dia, memberi hadiah dia, mentraktir dia dengan makanan mahal-mahal. Apa yang bisa dikasihkan kamu? Atau komunitas kamu?

Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain, bukan manusia yang paling banyak memanfaatkan orang lain. Kalau kata salah satu mentor saya, seperti rampok, LU BISA KASIH APA? Baru masuk dalam sebuah komunitas, harusnya aku bisa beri apa pada komunitas atau pertemanan ini? Kalau kata salah satu Dosen saya jangan bertanya apa yang bisa saya dapatkan? Tapi apa yang bisa saya bantu? (Tidak mesti dalam bentuk materi).

Jadi jangan marah kalau ada orang yang datang hanya saat perlu (memanfaatkan), berarti dirimu manusia yang bermanfaat. Satu lagi, tidak perlu marah kalau pemberian kita tidak dihargai oleh manusia, bahkan dihina karena “nilai”nya murah. Cukuplah mencari ridha Allah, alasan kita untuk berbagi dan berbuat baik kepada orang lain.🙂 . Orang yang diberi juga seharusnya tahu sedikit etika kalau sudah diberi, walaupun nilainya kecil, berterimakasihlah minimal kalau Anda tidak suka dengan pemberian tersebut dan tidak mau mengucapkan terima kasih. Tutup mulutnya dengan tidak menghinanya atau menghina pemberiannya. Kalau tidak suka dengan pemberiannya, disaat orang tersebut tidak ada, Anda bisa memberikan pemberian tersebut kepada orang lain lagi. Simpel khan? Belajarlah untuk menghargai orang lain.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s