Idul Adha di Semarang Part 3

Semarang, 4 Oktober 2014

Nemenin keponakan bungsu main lego perempuan. Ke warung depan rumah sama mbak D, jualannya laris. Ga di Jogja, ga di Semarang, aku belinya mie, sup, dan bakwan goreng jagung. Pagi hari Alif datang naik motor. Siapa Tante? Coba dilihat sana? Dinda keluar, ngelihat mas-nya langsung meluk. Oya, yang saya suka dari keluarga besar dari pihak ibu adalah walaupun sepupu tapi berasa seperti saudara kandung. Kalau sedih, ikut merasa sedih. Kalau senang, ya ikut senang. Bukan sebaliknya. Kedekatannya sangat terasa.

Menjelang siang makan siomay (ntah kenapa aku kurang suka dengan rasanya, cuma ambil 1), tapi pempeknya enak banget (katanya asli dari Palembang) memang benar rasanya beda banget dengan yang biasa aku beli.

Mbak D nyuruh aku bungkusin kado untuk keponakan-keponakan. Bungkusanku ga rapi. Dinda ikut bungkus dan rapi. Haha.

Agak siang hari Mas H dan mbak H dateng ke rumah. Mbak D panggil taksi yang model avanza karena berisi 6 orang. Mbak H dan Mas H naik motor. Kami nyekar ke makam mas Jo. Wow nyebrang jalannya ramai sekali, mengerikan. Belum lagi menuju makamnya itu harus lewat semacam got yang tinggi dan hanya diisikan 3 kayu tipis untuk jembatan melewati got tersebut. Mas H yang kakinya panjang bisa melewati got tersebut tanpa melewati kayu. Dan megangin tangan-tangan kami. Aku jadi keinget jaman SD dulu saat Pramuka lewat jalan yang hanya bisa dilewati dengan satu kaki dan bawahnya adalah sungai yang deras, jadi kalau jatuh bye bye, belum lagi saat itu mesti bawa tongkat Pramuka dan barang-barang.

Kakak bilang makam ayahku banyak batu-batu besar. Mana? (Saya belum pernah nyekar ke makam Mas Jo). Itu (sambil nunjuk), ternyata persis di depan kami. Makamnya hanya dari tanah dan diberi nisan kayu (katanya yang bagus khan memang dengan tanah). Lalu kami berdoa.

Tujuan selanjutnya kami ke makam Pakde P dan Mas Pu. Diperjalanan awal masuk makam dan menuju makam kulihat dan kudengar mbak H curhat ke mbak D masalah mbak P. Berdoa untuk Pakde P. Mbak D nanya Sari belum pernah ke sini ya? Sudah mbak, satu kali diajak Bude E nyekar mas Pu. Mana makamnya mas Pu? Lagi-lagi…mbak D jawab itu di depan persis aku. Lalu kami berdoa.

Tujuan selanjutnya adalah rumah Bude E. Kakak minta minum di rumah Bude E, maunya minuman dingin. Bude ga punya minuman dingin. Akhirnya mas H dan kakak ambilkan teh bandulan gelas. Dulu pernah minum teh bandulan, dan saya kurang suka rasanya, agak-agak pahit (kurang manis). Tapi saat itu entah karena haus dan panas, teh bandulan yang disediakan hanya tersisa 1 gelas. Kakak, Tante minta tehnya ya? Kakak kelihatan keberatan. Mas H lalu ngajak Kakak untuk ambil teh bandulan gelas lagi. Dan… teh bandulan gelas yang disediakan lagi langsung ludes, hanya tersisa satu gelas itupun dibawa pulang. Hahaha.

Malamnya mas H, mbak H, dan Sas main ke rumah Bude P. Biasa ngobrol, mumpung ketemu saudara. Sas tinggi sekali badannya. Mamaku bilang mudah-mudahan Sas bisa jadi Paskibraka yang ngibar bendera 17 Agustus seperti di TV. Sas punya modal untuk itu. Cantik, tinggi, proporsional, pintar, dan dari keluarga mampu. Saya bilang ke Sas, wah bisa ikut Paskibraka seperti yang di TV donk. Nah itu Tante, aku pakai kacamata. Ga bisa, untuk Paskibraka Kota aja sudah ga bisa. Terus yang bisa hanya Paskibraka sekolah? Iya.

Mbak H dan mas H itu jago banget pakai alat raket nyamuk elektrik, banyak banget dapat nyamuk. Oya, aku baru tahu kalau sekarang raket nyamuk elektrik itu batrenya bisa dicas. Zamanku dulu khan batre bulat-bulat gede itu. Satu lagi saat ini anak SMA kelas 1 sudah mulai penjurusan IPA, IPS. Zamanku waktu itu kelas 3 SMA baru mulai penjurusan. Zaman Al baru kelas 2 SMA penjurusan. Baguslah kalau sudah dari kelas 1 SMA karena sistem UAN, jadi biar bisa fokus belajar sesuai dengan jurusannya.

Nb : Kalau ngasih hadiah ke anak kecil itu saat-saat hari H saja, karena anak kecil itu tidak sabaran untuk membuka kadonya.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s