dr DD

Yogyakarta, 26 September 2014

Aku ke Dokter Umum di apotik kampusku. Seperti biasa dengan busana super cuek bebek dan tanpa make up.

Daftar, ditanya-tanya nama, tanggal lahir, penyakit yang pernah dialami.

Dianterin dah saya sama mbak-mbak menuju ruang Dokter Umum.

Assalamualaikum.

Dokternya ga jawab, hanya noleh sekilas.

Dalam hati, pasien dicuekin. Duduk, ngadep depan (bukan ke arah Dokter). Dokternya juga diam saja. Agak lama, Dokternya baru tanya apa keluhannya?

“Batuk ga sembuh-sembuh, sama pilek.”

“Sejak kapan?”

“Awalnya balik ke Jogja tanggal 2 September, tanggal 3 langsung panas. Seminggu kemudian batuk dan pilek.”

“Waktu panas, minum obat apa?”

“Paracetamol.”

“Paracetamol. Batuknya?”

“Konidin dan Woods.”

“Buka mulutnya.” Aku langsung buka mulut. Ternyata buka mulutku salah, terus Dokternya contohin sambil menjulurkan lidah. Dalam hati ketawa aja, lucu ngelihat Dokter menjulurkan lidah. Oya saat periksa tesebut, tangannya mengenai wajah aku.

“Merah.” Aku diem aja. Dokternya menatap aku sambil mengedipkan kedua matanya. Aku langsung ingat, aku punya masalah mata.

“Dok, saya juga ada masalah mata sebelah kiri, berkedipnya frekuensinya terlalu sering.”

“Kenapa?”
“Kalau jalan itu sering kena debu dan binatang kecil masuk.”

“Oh kalau itu lebih enak sambil tiduran.”

“Dokter tahu Dokter mata di Yogya itu dimana?” Posisi kami sama-sama berdiri. Tinggi badan Dokternya, tinggi banget, besar, muda, dan lumayan ganteng.”

“Jalan Parangtritis, atau kalau ga ke RS Hidayatullah, Dokternya sama Dokter (menyebut nama Dokter mata). Tahu RS Hidayatullah?”

“Yang belakang kampus 3 (menyebut nama kampusku)?” Dokternya yang bingung.

“Deket terminal lama. Tahu terminal lama?”

Muka bingung. Ya gampang dech, Dok.

Tiduran, mataku dipegang-pegang.

“Rileks, rileks aja. Yang ganjel mana? Atas atau bawah?”

“Semuanya Dok.”

“Coba dirasakan.” Aku mencoba merasakan.

“Atas.”

Dokternya buka kelopak mataku dan seperti mengarahkan senter ke mataku. Dokternya megang kelopak mata sebelah kiri. “Ini ya yang berasa ganjel?”

“Iya,”

Aku buka mataku, sedikit kaget karena wajah Dokternya dekat sekali dengan wajahku. Posisinya di sebelah kananku. Mungkin hanya berjarak dua ruas jari. Dokternya langsung ambil jarak, mundur.

“Ada satu titik hitam di kelopak mata, tapi di sini ga ada alatnya.”

“Aku sudah pakai Cendo Centrol no 46, dikasih Dokter juga.”

“Dokternya langsung memperbaiki pengucapanku tentang nama obatnya.”

“Ya itu dah.”

“Kalau sudah pakai itu lama harusnya sudah bersih, mungkin ada binatang yang tertinggal, belum keluar.”

Terus kami sama-sama duduk. Dengan tidak menatap Dokternya, aku bilang gatel banget. Dokternya ga “ngeh”. Setelah agak lama tenggorokannya yang gatel? Iya sama nyesek dada. Dokternya langsung ambil stetoskop. Aku langsung jaga bagian dada aku. Dokternya juga hati-hati pakai stetoskop ke dada aku, biar ga kena sentuh.

“Tarik nafas.” Disuruh sampai 3 kali. “Ga apa-apa paru-parunya,  masih baik-baik saja karena ga bunyi bersuara.” Aku lega.

Dokternya ketawa sambil ngomong sendiri, “Kok banyak banget ya obatnya.” Aku noleh ke Dokternya.

“Saya kasih vitamin ya? Suka minum vitamin?”

“Vitamin A dan C IPI, tapi yang C sudah sebulanan ga diminum.”

“IPI, harus rajin minum vitamin C. Saya kasih (menyebut nama vitamin).”

Aku noleh ke Dokter, “Apa itu?”

Dokternya ketawa, “Vitamin.”

“Oh, ya.”

Diberi saran tips macem-macem sama dr DD, bahkan ditunjukkin caranya. Plus dapet sedikit ilmu obat antibiotik dari dr DD. dr DD ini sepertinya Dokter baru, karena saat menulis resep ada sekitar 2 lembar kertas yang sepertinya nama-nama obat.

Diberi resep, aku langsung berdiri, ngeliatin Dokternya agak lama, “Makasih”. Lagi-lagi ga ada respon jawaban, baik sapaanku diawal maupun diakhir.

Ke apotek, ngasih resep. Ga lama kemudian dr DD keluar dari ruang Dokter dan menuju apotek. dr DD pakai kacamata. Dalam hati bertanya kenapa pas meriksa aku ini Dokter ga pakai kacamata?

Hari itu aku sama sekali ga kepikiran (suka) dengan Dokter DD, karena mungkin fisiknya cenderung biasa  saja bagiku, tapi beberapa hari kemudian mengingat obrolan diantara kami membuat aku jadi senyum-senyum sendiri. Ini Dokter baik banget.

Saat ke apotek kampus lagi, aku lihat selebaran. Oh nama dr nya DD. Cari informasi dr DD di Google, taraaaa dapet. Ternyata dr DD ini sudah menikah, pengantin baru, Mei 2014. Istrinya itu calon Dokter Gigi dan kakeknya adalah Profesor di Kedokteran. Wow, panteslah.

Terima kasih dr DD atas tips-tipsnya, semoga saya tidak bakal berkunjung ke Dokter Umum lagi ya karena masalah sakit batuk.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s