Mudik

Yogyakarta, 21 Juli 2014

Urusan kuliah kelar juga akhirnya, tepatnya urusan tanda tangan dengan pihak-pihak yang terkait. Sekitar jam 3 sore beli tiket pesawat untuk malam hari ke Denpasar, dapat dengan harga tiket 489 ribu, naik S***a. Sudah 2 kali ini saya naik pesawat S dan saya kecewa dengan pelayanannya Ibu Pramugari Si S. Jadi keingat dengan salah satu Dosen dan seorang teman yang males banget kalau naik S, tepatnya dengan pelayanannya saat check-in dan delay pesawat. Tetap pelayanan Si Burung lebih bagus, menurut saya; salah satu Ibu Dosen; dan seorang teman, tapi dari segi harga Si Burung juga lebih wow. Wajarlah ada harga, ada kualitas.

Prepare barang bawaan mudik, beli oleh-oleh berupa gudeg, bakpia rasa duren dan keju, yangko, dan lempok duren. Rasa bakpia duren ternyata enak banget, harganya juga wow.

Saat naik taksi dari bandara ke rumah ortu, aku iseng buka Facebook. Pakde Cholik (blogger), nulis status yang isinya intinya jangan ga bilang dengan orang di rumah dengan niat kasih surprise tahunya orang rumah pada mau ngasih surprise juga dengan pergi ke kotanya. Dan kali ini saya baru pertama kali mudik dengan tidak memberi tahu orang rumah. Sebenarnya sich bukan tidak memberi tahu, karena saat hari Sabtu aku sudah sms ayah kalau urusan kelar hari Sabtu atau Senin.

Beaya naik taxi dari bandara ke rumah, totalnya 140 ribu. Yang biasanya pulang disambut atau disms ditanyain sudah sampai mana. Ini sampai depan rumah dalam keadaan pintu terkunci dan gonggongan 2 anjing. Panggil-panggil Assalamualaikum beberapa kali, tidak ada yang mendengar. Akhirnya terpikir untuk menelepon rumah. Eh pulsa telepon habis akhirnya isi pulsa dulu. Untung penjualnya saya sendiri. Sudah isi pulsa, lalu telepon rumah. Kakak ipar yang angkat telepon, aku minta dibukain pintu pagar sudah sampai depan rumah.

Kudengar suara ayah nanyain siapa? Sari, sudah sampai depan rumah. Ayah dan kakak ipar bukain pagar. Ayah bilang pulang kok ga ngasih tahu?! Sampai dua kali pertanyaan. Iya, biar ga ditungguin. Biasanya nyokap itu nungguin sampai setengah satu pagi, ga tega aja. Lalu dua keponakanku, Anak pertama dan bungsu keluar rumah, nyambut aku. Tante, manggil sambil cium tangan. Lalu kita berdua bincang-bincang. Mama mungkin keberisikan, dan akhirnya terbangun. Mama juga nanya kok ga ngasih tahu kalau mau pulang.

Iklan

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s