Giveaway Senangnya Hatiku: Bahagia Itu …

launching-blog-www

Pernah merasakan kualitas keimanan menurun drastis? Saya rasa setiap individu biasa pasti pernah merasakannya, iman naik turun layaknya jet coaster, tentu dengan kadar yang berbeda.

Pergaulan itu seperti berteman dengan penunggu tungku besi (tukang besi), dan penjual minyak wangi. Bergaul dengan penjaga tungku besi akan berbau asap yang merusak hidung dan kerongkongan, sedangkan bergaul dengan penjual minyak wangi, ia akan ikut menghirup wanginya minyak tersebut, walaupun bukan pemiliknya.

Hidup saat ini bergerak ke arah ketidakwarasan sehingga orang-orang yang waras akhirnya dianggap tidak waras hanya karena minoritas, yang membuat saya “goyah” dan cenderung menyesuaikan diri dengan keburukan daripada mengubah keburukan itu sendiri, yach saya menyimpang dari jalan lurus Islam untuk berkompromi dalam keburukan.

Sebenarnya saya melihat dengan mata kepala sendiri dimana satu per satu teman yang menjalankan ibadah dengan baik memutuskan memisahkan diri/menjaga jarak/keluar dari komunitas tersebut, hanya untuk urusan kerjasama saja baru mereka bergabung, tetapi tidak untuk berkumpul (nongkrong) bareng. Saya pun sudah diberi “pesan terselubung” dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu menjaga jarak, tetapi saya mencoba bertahan sampai hampir 2 tahun lamanya.

Puncaknya adalah di tahun 2012, awal 2012 mental saya sudah mulai drop, setiap bulan jiwa saya bukan semakin membaik, termasuk rezeki yang saya terima mulai menurun. Di tengah keramaian berkumpul dengan komunitas tersebut; jiwa saya kosong, sedih, marah, tidak karuan semua perasaan menumpuk menjadi satu, perasaan tidak jelas, hampa; bahkan saat berkumpul di ruang karaoke yang harusnya senang dengan dentuman musik yang super keras beserta banyak teman tetapi saya merasa sepi.

Di saat saya mulai menjauh dari komunitas tersebut, saya malah bertemu dengan orang-orang yang baru dan “keras” dalam ajaran Islam dan memarahi saya sesuai dengan permasalahan saya padahal saya sama sekali tidak bercerita dan tidak meminta nasihat tersebut sama sekali. Akhirnya saya merefleksi hidup saya selama ini, dan saya mulai menyadari saya telah menjauh dari Allah, dan saya memutuskan mendekat pada Allah karena yang lalu sempat terlupa. Bulir-bulir air mata kesedihan menetes saat shalat malam, tengadah kedua tangan menjadi saksi meminta petunjuk akibat kebingungan yang luar biasa. Bagaimana tidak, saya harus berada dalam satu lingkungan yang mengharuskan saya untuk tetap terlibat kerjasama dengan komunitas tersebut.

Misal pengguna narkoba saat ingin keluar dari lingkungan, biasanya akan mendapat halangan dari bandar narkoba. Penjaja cinta ingin keluar dari komunitasnya, umumnya akan mendapat rintangan dari “mami”. Saya tidak pernah terpikirkan konsekuensi yang akan saya dapatkan saat memutuskan benar-benar memisahkan diri dari komunitas tersebut, yang ada dipikiran saya saat itu adalah saya sudah tidak kuat, paling hanya untuk urusan kerjasama saja baru berkumpul. Konsekuensi yang saya dapat adalah verbal abuse yaitu pelecehan melalui kata-kata yang menyakitkan hati dan merendahkan dari komunitas tersebut, itu justru membuat saya semakin mantap untuk tidak bergabung dengan komunitas tersebut, lucunya para pelaku verbal abuse ke saya malah membutuhkan bantuan dari saya.

Saya banyak mendapat hikmah dan pembelajaran dari masalah tersebut, semoga ini bisa menjadi cerminan bagi kita semua kalau tidak ada kompromi terhadap keburukan. Komunitas tersebut dihadirkan ke dalam kehidupan saya untuk menjadi ujian bagi saya, inilah ujian ketaatan yang Allah berikan, dan saya kalah. Saya menyesal telah melanggar ketentuan Allah, tapi juga bersyukur pernah mengalaminya, karena sekarang saya tahu rasanya salah dalam pergaulan, maka sulit rasanya bagi saya untuk mengulang kembali kesalahan tersebut. Jangan pernah coba-coba mengizinkan untuk berkompromi dengan keburukan, ini bukan teori, sebab saya sudah praktik secara langsung. Saat ini saya masih belum pulih betul, masih sering tersedu malu pada Allah, meski terseok dan tertatih saya mencoba kembali mendekat pada-Nya. Semoga bisa jadi pembelajaran bagi kita semua.

Sesungguhnya, tidak seorang pun dihadirkan Allah ke dalam kehidupan untuk menyakiti, melainkan untuk membuat lebih kuat dan lebih dekat dengan-Nya.

Aku terjatuh dan harus bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tahu arah jalan pulang
Aku tanpa-Mu butiran debu

(lirik lagu butiran debu, yang sedikit diubah liriknya)

Cinta Allah adalah segalanya dalam hidup. Biarlah kehilangan sesuatu karena Allah, jangan sampai kehilangan Allah karena sesuatu. Kesedihan bukanlah karena tidak bisa mendapatkan yang diinginkan, tetapi kesedihan itu ketika jauh dari Allah. Jadi Bahagia itu ketika dekat dengan Allah.

“Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku”

5 thoughts on “Giveaway Senangnya Hatiku: Bahagia Itu …

  1. Alhamdulillah…, semoga itu semua menjadi pelajaran penting ya, Mbak. Dan, sekarang melangkah dalam jalan yang semoga selalu lebih baik dari hari ke hari. Maka, secara resmi artikel tersebut saya nyatakan TERDAFTAR.

    Makasih banyak ya, Mbak, dan salam hangat persaudaraan.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s