Pembunuhan Misterius

Seluruh pemain Wayang Orang BlogCamp Budhoyo kaget dengan kematian Mudhoiso, namun tidak ada seorang pemain yang menangis dengan kematian Mudhoiso.

Mudhoiso yang berperan sebagai Cakil memang memiliki karakter seperti Cakil. Bertingkah polah “pethakilan” dan “pecicilan”, berwatak buruk, suka mengadu domba dan menguji kesabaran orang dengan tingkahnya yang menjengkelkan, serta akan terbahak-bahak kegirangan jika berhasil merusak ketentraman orang lain dengan tingkah buruknya. Mudhoiso suka menghalang-halangi orang supaya gagal melakukan kebenaran dan kebaikan, namun akan senang apabila melihat orang lain gagal dan melakukan kemaksiatan.

Melihat perilaku Mudhoiso yang tidak baik dan menyenangkan, sangat wajar jika ia tidak pernah disukai, selalu dijauhi, diabaikan dan dimusuhi, bahkan saat kematiannya tidak ada seorang pemain yang sedih akan kematiannya.

Fakta saat di atas panggung kalau Rikmo Sadhepo yang mengarahkan ujung keris luk 9 ke leher Mudhoiso di depan seluruh penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo, tidak bisa terbantahkan sehingga Inspektur Suzana langsung mengeluarkan borgol dari saku celananya dan memborgol kedua pergelangan tangan Rikmo Sadhepo, membawa Rikmo Sadhepo ke kantor Polisi untuk diinterogasi. Inspektur Suzana menelepon rumah sakit untuk minta dikirimkan satu ambulans ke lokasi kejadian perkara dan minta sekaligus mayat Mudhoiso diotopsi.

Inspektur Suzana mendelegasikan tugasnya untuk menginterogasi Rikmo Sadhepo ke anak buahnya. Setelah Inspektur Suzana pergi, ketiga anak buahnya menginterogasi Rikmo dengan kasar karena Rikmo tidak mau mengakui kalau ia yang membunuh Mudhoiso sehingga ketiga Polisi tersebut menjadi tidak bisa mengendalikan emosinya. Setelah Rikmo menangis mulai dari sesenggukan sampai menangis terisak-isak, Rikmo akhirnya menyetujui dan menandatangani surat pengakuan kalau ia yang membunuh Mudhoiso, akhirnya Rikmo ditahan dalam penjara.

15 tahun kemudian….

Kasus Rikmo sedang diberi percobaan baru, kasus ini jatuh ke tangan seorang pengacara junior bernama Viar Arjun yang berusaha membantu Rikmo setelah 15 tahun mendekam di penjara, tidak pernah berbicara dengan seorangpun, dan mendapat nama panggilan Si Pembunuh Cantik. Viar bertemu dengan Rikmo, seperti biasa Rikmo hanya duduk menunduk tanpa melihat lawan bicaranya, selama lima jam Viar hanya berbicara seorang diri. Saat mau pulang, Viar memanggil “Rikmo Sadhepo, sebegitu malukah engkau dengan namamu sendiri sehingga kamu mau dipanggil Si Pembunuh Cantik?” Rikmo berkata “Tunggu”, akhirnya Rikmo mau berbicara, ia menceritakan kisah masa lalunya kepada Viar, yang kemudian berusaha memperjuangkan Rikmo untuk kebebasannya di sidang pengadilan.

Sebelum maju di sidang pengadilan, Viar agak terkejut kalau Jaksa Penuntut Umumnya adalah mantan atasannya yang belum pernah satu kasus pun terkalahkan oleh pengacara manapun dan Viar tahu kredibilitas mantan atasannya ini buruk karena ia tidak peduli tentang kebenaran tetapi ia hanya peduli seberapa banyak materi yang bisa ia dapatkan walaupun orang yang dibela tersebut salah. Salah satu alasan Viar mengundurkan diri dari kantor mantan atasannya tersebut karena beda prinsip, Viar lebih suka membela yang benar, bukan hanya sekedar materi semata.

Sehari sebelum persidangan, Viar memutuskan untuk datang ke kantor mantan atasannya.

Viar : “Pak, tolong terdakwa ini benar-benar tidak bersalah.”

Mantan atasan Viar : “Kenapa kamu datang ke kantorku? Kamu takut kalau kamu kalah di persidangan? Apalagi ini kasusmu yang pertama, sedangkan kamu tahu kalau saya belum pernah terkalahkan dalam persidangan!” #Berbicara dengan nada tinggi dan angkuh.

Viar : “Seharusnya saya tidak datang ke kantor Bapak. Saya tidak takut kalah dalam persidangan ini, saya akan memperjuangkan sebaik mungkin dalam kasus pertama saya.” #Viar meninggalkan kantor mantan atasannya.

Pagi harinya sebelum persidangan dimulai, Viar datang ke ruang sidang seorang diri untuk latihan persiapan membela Rikmo. Sidang dimulai, semua saksi-saksi dipanggil mulai dari Inspektur Suzana, ketiga anak buah Inspektur Suzana, pemain Wayang Orang BlogCamp Budhoyo.

Jaksa Penuntut Umum/mantan atasan Viar (Hotman Paung) : “Apa gunanya kasus ini dilanjutkan? Sudah belasan tahun yang lalu terjadi dan Si Pembunuh Cantik juga sudah menandatangani surat pengakuan kalau ia yang membunuh Mudhoiso.”

Viar : “Bapak Hakim yang terhormat dan Bapak Oman Aung.” #Pembicaraan dipotong.

Hotman : “Nama saya Hotman Paung.”

Viar : “Bagaimana bisa kasus ini ditutup, Anda sendiri baru saya salah satu kali dalam memanggil nama Anda, Anda sudah tidak terima. Saudari Rikmo ini sudah 15 tahun tidak dipanggil sesuai namanya, ia dipanggil Si Pembunuh Cantik. Bagaimana perasaannya?”

Persidangan terjadi dengan sangat alot dan saat detik-detik palu Hakim akan diketok, tiba-tiba pintu persidangan ada yang membuka dengan keras, dan semua mata menoleh ke arah belakang (orang yang membuka pintu). Semua orang yang hadir tertegun melihat mantan penjaga busana (wardrobe) Wayang Orang BlogCamp Budhoyo hadir di persidangan ini padahal ia tidak diundang menjadi Saksi. Setelah Saksi terakhir (penjaga busana), akhirnya palu Hakim diketok dan orang yang dijatuhi hukuman adalah penjaga busana dan Inspektur Suzana, serta dibebaskannya Rikmo Sadhepo dengan terhormat dan adanya pengumuman di surat kabar Nasional kalau ia tidak bersalah sama sekali untuk pemulihan nama baik.

Pengakuan dari penjaga busana adalah kalau Inspektur Suzana yang menjadi dalang (otak) dari pembunuhan Mudhoiso, iya membayar saya untuk meletakkan silet di ujung keris luk 9 yang terbuat dari gabus, sebelum pertunjukkan. Saya tertekan dan merasa bersalah selama 15 tahun karena ulah saya ini mbak Rikmo dipenjara padahal ia tidak tahu sama sekali. Inspektur Suzana memiliki dendam pribadi dengan Mudhoiso karena Mudhoiso memang bukan orang yang memiliki karakter yang baik.

Semua yang hadir memberi selamat pada Viar Arjun karena keberhasilannya dalam kasus pertamanya ini, termasuk Bapak Hotman Paung.

Hotman Paung : “Selamat Viar atas kemenangan kasus pertamamu yang telah mengalahkan saya, ini kali pertama saya kalah dari kasus persidangan. Sepertinya saya harus mundur dari pekerjaan.”

Viar Arjun : “Terima kasih Pak atas ucapannya tapi saya rasa Anda tidak perlu mundur dari pekerjaan, Bapak hanya perlu mengubah prinsip untuk membela yang benar bukan membela yang bayar karena kebenaran pasti akan selalu terbukti kalau tidak di dunia ya masih ada hukum akhirat.”

Rikmo menghampiri Viar.

Rikmo : “Terima kasih Viar, kamu telah membantu saya memulihkan nama baik saya.”

Viar : “Sama-sama Rikmo Sadhepo atas kerjasamanya akhirnya saya telah memenangkan kasus pertama yang saya dapat untuk kemajuan karir saya ke depan, dan semoga saya akan selalu bisa menolong orang-orang yang membutuhkan jasa saya sebagai ahli hukum. Boleh saya bertanya?”

Rikmo : “Tanya apa Viar? Silahkan.”

Viar : “Selama 15 tahun, Rikmo tidak pernah berbicara dengan seorang pun saat di tahanan. Namun hanya kepada saya Rikmo mau berbicara bahkan menceritakan kisah masa lalu Rikmo. Ada apa dan kenapa?”

Rikmo : “Dimulai dari kasus kematian Mudhoiso terjadi nama saya telah berubah dari Rikmo Sadhepo menjadi Si Pembunuh Cantik, itu menyakitkan saya, saya bukan pembunuh walaupun memang saya yang mengarahkan keris tersebut. Tidak ada seorang pun yang memanggil saya Rikmo apalagi secara lengkap Rikmo Sadhepo, tetapi Viar memanggil nama saya dengan lengkap, bahkan Viar tidak pernah memanggil saya dengan sebutan Si Pembunuh Cantik seperti yang lainnya. Saya merasa dihargai saat semua orang mungkin tidak tahu atau bahkan lupa dengan nama saya.”

6 thoughts on “Pembunuhan Misterius

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s