Pandangan Pertama

Yogyakarta, 16 Januari 2013

Jujur dari dulu aku tidak pernah percaya dengan suka pada pandangan pertama atau langsung menilai dari awal pertama berjumpa kalau orang tersebut baik atau buruk.

Aku mendapat undangan syukuran melalui sms untuk hadir, tentu saja kuterima dengan senang hati, alasan pertama menyenangkan teman, kedua makan gratis, dan berhubung saya bisa hadir jadi ayuk aja dech, padahal aku tahu yang akan hadir sama sekali bukan komunitasku tapi komunitas temanku ini, anak-anak Magister Profesi Psikologi lain dengan kampusku, perbandingannya 1 : 7, kebayang khan aku sendiri yang di luar komunitas itu. Satu-satunya cara adalah sok kenal, sok akrab.

Satu per satu tamu bergantian datang, ternyata eh ternyata ada satu cowok kinclong banget alias cakep banget, nget, nget. Aku definisikan ya kegantengan cowok tersebut : tampangnya itu mirip Atalarik Syah (bener ga ya penulisan namanya? Kalau salah maaf ya…). Kami duduk berhadap-hadapan, aduh kalau caranya kayak gini aku harus dan wajib mengalihkan pandangan, sedikit kulirik dia menatapku tapi saat berbincang-bincang kulihat pipinya merah merona. Setelah ngomong-ngomong ternyata beda usia kami 3 tahun (maksudnya lebih tua aku, tiga tahun. Ah, ga terlalu jauh), melaksanakan shalat, anak tunggal pula euy. Sayangnya Mr. V ini sepertinya pemalu, sampai satu titik pembicaraan dia manggil aku “mbak”.

Drooooooooooooooooooop, aku langsung drooooooooop, Kalau sudah kata mbak keluar itu tidak mungkin jadi target calon suami tapi jatuhnya saudara atau teman. Yuk ba bay cowok ganteng, berharap suatu saat jumpa lagi. :kiss: pertemanan.

3 thoughts on “Pandangan Pertama

  1. kalau jodoh pasti bisa kok. temenku beda 2 tahun sama suaminya dulu dipanggilnya mbak, tapi mereka gak pakai pacaran, langsung taa’ruf Allhamdulillah sekarang sudah dikaruniai 3 anak

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s