Mengajarkan Empati pada Anak

  1. Memperlakukan anak dengan empati membuat ia tumbuh percaya akan dirinya dan tumbuh menjadi tangguh.
  2. Tidak empati sama dengan mengabaikan perasaannya. Ini yang membuat anak tumbuh rapuh di usia dewasa.
  3. Berulang-ulang mengabaikan empati dalam pengasuhan, membuat anak tidak kenal dirinya, perasaannya.
  4. Ketika anak jatuh, terluka, kita spontan katakan “engga apa-apa”. Itu bukan empati.
  5. Beri waktu ia menangis karena kaget atau mungkin benar-benar sakit, jangan abaikan dan bersikap tidak terjadi apa-apa.
  6. Ketika anak cerita temannya “nakal”, kita respon “jangan bilang nakal, dia tidak nakal”, juga bukan empati.
  7. Dengarkan dulu apa yang ia rasakan hari itu. Biarkan ia tumpahkan perasaannya, dengarkan saja dulu. Ini baru empati.
  8. Empati pada anak adalah memberikan “telinga” kita untuknya. Dengarkan.
  9. Satu kata yang menggugurkan empati adalah : “makanya ibu bilang juga apa”. Jangan bilang : makanya.
  10. Percayalah anak punya kemampuan menyimpulkan satu kejadian. Hindari kata : “makanyaaaa”
  11. Empati harus dilatih.

Empati adalah ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain.

Empati dengan simpati, berbeda.

8 thoughts on “Mengajarkan Empati pada Anak

    • Wah saya belum jadi ahli mbak, saya bukan psikolog anak, dan saya belum punya anak. Hanya punya pengalaman mendidik keponakan dan mengajar anak-anak.

  1. Wow, berguna sekali tipsnya. Meski saya belum menikah dan belum mempunyai anak, semoga tips ini bisa saya ingat hingga saya punya anak nanti😀
    Salam kenal!🙂

  2. Tiffa, empati itu beda-beda tipis dengan perhatian ya. Bunda hampir setiap kali anak atau cucu berbuat kesalahan, selalu mengucapkan: makanya……… dan ternyata kata “makanya” ini seolah sebagai peringatan yang terekam dalam memorynya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Gituuuu…………

  3. kalau sejak kecil orang tuanya memberi contoh. mis: dia terjatuh lalu ditanyakan “are you okay?”, dll, aku yakin anak itu akan tumbuh jadi anak yang berempati. kalau aku pribadi biasanya sama murid2ku lebih ke berandai2. andai kamu begini, andai aku begitu rasanya bagaimana. ceritakan. pasti deh bisa ikut merasakan dan berempati🙂

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s