Indahnya Bahasa Cinta

Nama saya Sari, saya lahir dan dididik dari orang tua yang memiliki aturan yang super ketat dan keras. Semuanya diatur oleh orang tua saya; baik pilihan sekolah, lokasi sekolah, jurusan yang sama dengan profesi ayah, cara makan, cara jalan, cara tersenyum, jam malem, jam 9 malam sudah harus tidur, dapat izin pacaran saat usia 20 tahun, sebelum menikah tidak boleh peluk-pelukan dan cium-ciuman sama lawan jenis (yang bukan muhrimnya), ga boleh ke bioskop, ga boleh pergi ke tempat karaoke, dan segala aturan yang membuat saya menjadi sosok wanita yang kurang pergaulan dan kaku. Sudah pasti kalau saya melanggar aturan-aturan orang tua yang ada hanya akan mendapatkan “Kuliah Subuh” plus terjadinya “Perang Dunia ke-3”, dan tentu saja saya yang salah, kalah, dan mengalah, huuuffft. Menjadi anak yang sangat patuh pada orang tua adalah bentuk bahasa cinta saya terhadap orang tua.

Tahun 2009 saya diwisuda, mama bilang tidak mau menghadiri acara wisuda saya, dan kebetulan sekali bulan dimana saya akan diwisuda adalah jadwal ayah berlibur ke 3 Negara secara gratis dan tidak mungkin dibatalkan, jadi pemikiran saya saat itu tidak ada satu orang pun yang mencintai saya. Semua kasih sayang orang tua tertuju pada kakak saya: kakak saya memiliki kebebasan, saat kakak wisuda kedua orang tua saya hadir, dan masih “dimanja” padahal kakak sudah memiliki tiga anak, sedangkan saya mendapat “perlakuan” yang berbeda dan “perlakuan” tersebut menjadikan saya mandiri.

Ayah menawarkan berlibur ke Singapura sebagai hadiah kelulusan wisuda saya, dan saya terdiam (tidak tertarik sama sekali dengan hadiah tersebut). Setelah wisuda saya berpikir sudah bisa mengambil keputusan sendiri untuk menjalani hidup saya, ternyata saya salah besar. Saya diharuskan melanjutkan pendidikan saya.

10 April 2010 ayah menyuruh saya main ke rumah Bude dari pihak ayah yang sedang berlibur ke Indonesia, beliau sangat kaya, memiliki beberapa rumah di Indonesia dan di Negara beliau tinggal (perumahan di daerah elite), pernah nyaris keliling dunia bersama suaminya dengan uang pribadi berkali-kali, ayah saya pun pernah digratiskan berlibur ke 4 Negara. Ayah dan kakaknya yang ini berbeda keyakinan (Agama). Bukan berarti beda keyakinan, umat manusia menjadi musuhan khan?! Kita bisa menunjukkan Bahasa Cinta terhadap antar umat beragama dengan tetap menjalin silaturrahim dan saling menghargai keyakinan masing-masing.

Sampai di rumah Bude, ntah dimulai darimana percakapan menjadi berubah pertanyaan dari Pakde saya : ”Sari kalau disuruh memilih pergi ke Singapura atau Umroh, pilih mana?”

Saya : “Umroh, Pakde.”

Pakde : “Kenapa?”

Saya : “Ibadah dulu, baru duniawi, kecuali kalau saya sudah pernah Umroh.”

Pakde : “Kalau liburan ke salah satu Negara Eropa dengan Umroh, Sari pilih mana?”

Saya : “Tetap Umroh, Pakde.”

Pakde : “Padahal Bude mau ngajak Sari liburan ke luar negeri.”

Saya hanya tersenyum. Jam 10 pagi, saya pamit pulang dari rumah Bude menuju kos. Sekitar jam ½ 1 siang, handphone saya berdering, saya mendapatkan telepon dari Bude saya dari pihak mama.

Bude : “Assalamualaikum wr wb.”

Saya : “Waalaikumsalam wr.wb.”

Bude : “Sari kalau diajak Umroh mau tidak?”

Saya : *dalam batin, saya heran, kedua Bude saya dari pihak ayah dan mama dalam satu hari yang dibahas Umroh mulu, mending kalau mau ngajak Umroh beneran* “Mau Bude tapi Sari ga punya uang.”

Bude : “Mau apa tidak? Bude yang bayar.”

Saya : “Mau tapi Sari harus dapat izin dari ayah dulu.”

Setelah mendapatkan izin dari ayah dan mama, yang menjadi kendala saya adalah jadwal pergi Umroh saya bertepatan dengan jadwal kuliah saya yang super padat dan resikonya adalah saya mengulang semester depan. Sesuai dengan ucapan saya terhadap Pakde dari pihak ayah, ibadah dulu baru duniawi, yach saya memutuskan mengulang semester depan kuliah saya untuk Allah. Itu wujud Bahasa Cinta saya kepada Allah, sebagai rasa terima kasih saya kepada Allah karena telah memberikan banyak cinta dan kemudahan hidup untuk saya, salah satunya dengan menggagalkan 9 orang sebelum saya yang diajak Umroh oleh Bude saya. Setiap ajakan itu disambut oleh saudara saya yang lain selalu saja ada halangan, mulai dari Bude saya yang lain dan keponakan saya yang harus opname di Rumah Sakit, menantu Bude yang akhirnya hamil setelah 9 tahun menunggu adanya bayi di dalam kandungan, dan tidak dapat izin dari kantor.

Waktu keberangkatan saya dari Bandara Ahmad Yani, Semarang. Ayah bela-belain di tengah kesibukannya menyempatkan diri mengantar saya, saya tahu ayah waktu itu sibuk sekali dari Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, lalu ke Semarang (tujuan ini hanya karena ayah ingin mengantar saya di bandara), saya lihat mata ayah berkaca-kaca seperti menahan tangis dan memeluk saya erat sekali di depan keluarga besar dari pihak mama di bandara. Saya paham saat itu, begitulah bahasa cinta ayah terhadap saya dengan segala aturan yang super ketat.

Bahasa Cinta dari Allah saat Umroh lebih besar lagi di sana untuk saya sebagai tamu-Nya seperti diberi kemudahan tanpa perlu menunggu antri berjam-jam untuk bisa sholat di Raudhah, mencium makam Nabi Ibrahim, mencium Rukun Yamani, sholat di Hijir Ismail, sayangnya saya agak kesulitan untuk mencium Hajar Aswad.

Di Makkah, saya juga melihat banyak bahasa cinta, seperti saat Tawaf, Bude saya terlihat sangat kecapaian, ada wanita muda yang memberikan segelas air zam-zam kepada Bude. Di depan Masjidil Haram  juga banyak pengemis baik orang dewasa maupun anak kecil yang tidak memiliki tangan dan kaki (akibat mencuri lalu kena hukum potong tangan dan kaki) bahasa cinta yang kami berikan untuk mereka dengan memberikan “recehan” uang real. Banyak burung yang mendapatkan cinta dari kami dengan membeli makanan burung seharga 5 real dan makanan tersebut kami tebarkan, juga tidak menangkap burung dan membiarkan burung terbang bebas.

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

Iklan

14 thoughts on “Indahnya Bahasa Cinta

  1. ceritanya penuh makna sekali Tiffa. salut deh disaat remaja seusia Tiffa mungkin lebih memilih berlibur ke eropa tapi Tiffa dengan yakin memilih umroh. Semoga nanti bisa kembali lagi kesana untuk Haji ya

  2. cinta memiliki bahasa sendiri untuk menyapa. Ungkapan cinta tidak cukup jika hanya mulut yang bicara. Seperti cara saya mencintai mama, dan bagaimana cara mama mengungkapkan cinta ke saya.

  3. Apa kah cinta itu bsa membuat kta senang??? melaikan membuat kta sakit dan lebih sakit
    keculia Cinta kita kepada Ibu,Ayah dan keluarga.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s