Makanan yang Pernah Cahya Coba Masak

  • Sup Sayur
  • Air
  • Mie instan
  • Sambal Pecel
  • Kastengel
  • Pancake
  • Martabak manis
  • Rempeyek
  • Kerupuk
  • Sambal bawang
  • Sambal terasi
  • Telur dadar
  • Telur ceplok
  • Telur dan kerang rebus
  • Nasi goreng
  • Nasi kuning
  • Nasi uduk
  • Tempe dan tahu goreng
  • Kol goreng
  • Kecipir dan terong crispy
  • Pisang goreng
  • Cireng
  • Pisang aroma

Ini makanan yang dari segi rasa dan tampilannya layak untuk dimakan dan dijual, alias saya sukses dalam memasak makanan tersebut karena laris dilahap sampai habis. Masih terus bereksperimen dan mencoba resep dengan menu yang bahan – bahannya murah tapi dari segi rasa tidak kalah dengan bahan yang harganya mahal seperti ayam, udang, cumi, ikan, gurita, salmon, dll.

Es Krim Gratis

Denpasar, 18 Agustus 2016

Selama masa promosi es krim merek baru yang harga jualnya termasuk murah, hari ini bagi – bagi 300 es krim gratis ke orang – orang. Keponakan bungsu ngajakin ikutan antri es krim gratis. Satu orang dapat satu es krim. Saya ikut antri menemani keponakan, tentu saja saya dapat es krim gratis juga.

Jadi ingat kejadian satu tahun yang lalu…

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Saya diajakin Anggun (salah satu teman kos di jalan Gambiran) untuk ikut meramaikan acara 17 Agustusan di daerah tersebut. Ini pertama kalinya dimana tempat saya tinggal ada acara perlombaan 17 Agustusan. Ikut gerak jalan dapat permen, snack, dan minum. Dan kami berdua menang di salah satu perlombaan masukin alat tulis ke dalam botol itupun diribetkan dengan adanya balon, juara 4 (terakhir), dapat hadiah piring cantik. Nomor undian Anggun saat gerak jalan pun keluar sebagai salah satu yang beruntung mendapat hadiah minuman, berhubung Anggun ga mau ambil hadiahnya jadi saya yang maju ke depan dan hadiah minuman dibagi rata, satu – satu. Saya dan Anggun kalah di lomba mindahin kacang pakai sumpit, dan lucunya Kami berdua kalahnya di babak kedua.

Malamnya ada acara lagi semacam doa, dengarkan musik, melihat video acara pagi sampai sore, dan makan minum gratis. Makan besarnya mie rebus panas. Snack dan minumannya apa? Lupa. Yang pasti seru dan salah satu pengalaman yang sulit bagi saya untuk dilupakan. Pengalaman yang menyenangkan.

Yogyakarta, 18 Agustus 2015

Esok harinya, saya dan Anggun kakinya langsung pada pegal – pegal. Haha…

Anggota HIMPSI

Denpasar, Agustus 2016

Yuhu…, Di bulan ini saya sudah daftar dan membayar biaya untuk menjadi anggota HIMPSI Bali serta membayar untuk mengurus surat izin praktik Psikolog. Alhamdulillah. Semoga dilancarkan dan semakin banyak tamu tes/klien yang datang ke tempat praktik ayah saya dan saya. Aamiin.

Idul Fitri 1437 H, 2016 M

Denpasar, 6 Juli 2016

Saya dan ayah shalat Idul Fitri di Polda Bali. Saya melihat satu perempuan jalan kaki dengan jarak yang jauh sekali menuju Polda Bali untuk shalat. Ayah langsung bilang, mesti bersyukur kamu ga perlu jalan kaki sejauh itu. Iya.

Keluarga kakak shalat Idul Fitri di Lumintang. Semua ada kelebihan dan kekurangan masing – masing. Kalau shalat di Polda Bali tertib. Kalau shalat di Lumintang banyak orang jualan mulai dari balon, umang – umang, burung kecil warna – warni, dan arum manis.

Pulang dari shalat Idul Fitri, ketiga keponakan bawa arum manis untuk masing – masing anak, 2 burung kecil warna kuning dan hijau plus kandang kecil dengan harga 15 ribu rupiah. Keponakan sulung beli umang – umang dengan harga satu umang – umang, dua ribu rupiah. Beli 8 umang – umang. Beli juga rumah umang -umang dengan harga 5 ribu rupiah, mungkin berhubung beli banyak jadi cukup bayar 20 ribu rupiah saja. Alhamdulillah. Keponakan bungsu baik hati sekali memberikan Tante dan Neneknya sisa arum manis miliknya.

Menu di rumah ya kue lebaran pada umumnya kastengel, nastar, dan putri salju. Menu makanan adalah opor ayam.

Saatnya “ringan kaki” alias silaturahim ke rumah Pak H dan open house di Masjid Baitus Shabirin. Menunya sate, lele, opor ayam, gulai, sambal, dan sayur nangka. Enak sate dan gulainya. Buahnya semangka warna merah terang, manis sekali rasanya.

Alhamdulillah, rezeki Allah berlimpah pada hamba sekeluarga.

Salah satu kakak sepupu saya dari pihak mama, hari ini ulang tahun.

Denpasar, 7 Juli 2016

Kedua burung kecil warna hijau dan kuning yang dibeli kemarin mati. Hiks hiks sedih. Maaf Allah.

Dua Keponakan Sunat

Denpasar, 6 Juni 2016

Kedua keponakan saya sunat, biaya sunat per anak 600 ribu rupiah jadi totalnya adalah Rp 1.200.000. Katanya saat disunat pada nangis, sakit. Mereka dibebaskan untuk tidak puasa dan shalat selama proses penyembuhan sunat. Wanita sakitnya kalau melahirkan dan laki-laki sakitnya pada saat sunat.

Seperti tradisi pada umumnya dengan cara memberikan nasi kotak kepada para tetangga, dan kedua keponakan mendapatkan “salam tempel”. Kaya mendadak mereka. Alhamdulillah.

Ayo laki-laki muslim sudah pada sunat belum?

Masjid Baitus Shabirin – Masjid Ramah Anak

Pernah melihat di masjid, anak – anak dilarang ikut shalat bersama orang dewasa? Pernah lihat di masjid, shalat anak – anak dan orang dewasa dipisah tempatnya? Atau melihat anak – anak dimarahi karena berisik dan berlari – larian di masjid? Masjid menjadi tempat yang menyebalkan dan menyeramkan bagi anak – anak untuk “bermain”, sehingga menimbulkan “trauma” tersendiri bagi anak – anak kalau ke masjid saya akan dimarahi. Orang dewasa lupa kalau anak – anak adalah regenerasi penerus untuk meramaikan masjid ketika anak – anak dewasa kelak.

Masjid Baitus Shabirin termasuk salah satu masjid yang cukup ramah dengan anak. Anak – anak diberi penjelasan jangan berisik saat shalat. Anak – anak bisa bersamaan shalat dengan orang dewasa tanpa dipisah. Anak – anak boleh ikut buka puasa bersama. Beberapa anak diizinkan adzan dan iqamah, dihadapan para orang dewasa. Salah satu keponakan saya sudah diberikan kesempatan untuk iqamah 2 kali dan adzan 1 kali. Pulang dari masjid, keponakan saya lari ke rumah untuk memberi tahu mama dan gunk nini (nenek dalam bahasa Bali) dengan wajah sangat senang serta bersemangat. Tiap hari dan menjelang waktu shalat, ketiga keponakan saya sudah siap – siap untuk ke masjid bersama gunk kak (kakek dalam bahasa Bali) dan mama mereka. Untuk apa? Selain shalat tentu saja bermain dengan teman – teman kecil mereka.