Marketing is Bullshit

Ini salah satu buku karangan Ippho Santosa *salah satu penulis favorit saya selain Bong Chandra, seperti yang saya tulis di sini.

Tapi eh tapi saya tidak mau mengreview buku tersebut, soalnya bukunya ada di Denpasar bukan di Yogya.

Tiffa mau cerita kejadian dalam waktu satu minggu ini *mudah-mudahan temenku itu pada ga baca. Jadi gini, saya punya teman di dunia nyata sebut saja Mima, Mima ini dulu temen kuliah saya di S1, cuma sekarang kami beda kampus  saat menempuh S2.

Oya mungkin ada yang belum tahu kalau nama saya Sarry Cahya Baroto, Tiffany Victoria hanya nama pena saja.

Jadi gini waktu S1, Mima memanggil saya dengan Cahya, dan ntah kenapa saat Mima diterima S2 di Universitas lain di Yogya, Mima tiba-tiba memanggil saya dengan Baroto. Saya Marah?? Tentu tidak, Baroto memang bagian dari nama asli saya, dan saya sudah terbiasa dipanggil, dijadikan bahan tertawaan, dan diledekkin dengan nama itu, buat saya biasa saja. Dari SD saya sudah SANGAT TERBIASA dipanggil dengan Baroto daripada Sarry, dan itu juga dialami oleh kakak perempuan saya yang bernama Baroto juga. Pernah komplen ga ke ortu dengan nama Baroto??? Klo kakak saya, saya tidak tahu apakah my sister pernah komplen ke ortu, tapi klo saya??? Yah, saya pernah komplen kepada mama dan ayah dengan nama tersebut saat saya duduk di bangku SLTP.

Di dalam mobil saya tanya ke ayah.

Saya : “Pa, kenapa sich nama Sarry dan mbak diberi nama Baroto?”

Ayah : “Tanya mamamu, semua anak ayah yang ngasi nama mama.”

Lalu saya tanya mama  saat di rumah.

Saya : ” Ma, kenapa nama Sarry dikasih nama Baroto?” *dengan wajah merengut.

Mama menjelaskan seluruh arti nama saya dan nama kakak saya, Sarry Cahya Baroto pun bukan full name saya, hanya nickname, karena nama saya jauh lebih panjang. Dengan mendengarkan penjelasan dari mama, saya sudah cukup puas dengan nama tersebut, dan menerima.

Kembali ke topik awal. Jadi baru-baru ini Mima kirim pesan di wall FB saya. Bunyinya intinya gini : Cahya yang cantik minta nomer hpnya donk, kirim lewat inbox fb ya!

Lalu saya balas seperti ini melalui inbox fb. *saya termasuk orang yang to the point dan ceplas ceplos tanpa basa-basi. Intinya gini : Ada apa nich, tumben manggil aq Cahya biasanya Baroto, mana manggil aq cantik lagi, jadi curiga (ini bahasa yg saya buat halus krn bnyk kritikan yang saya dapat kalo saya itu galak), (klo bahasa galaknya : ada perlu apa, baik2in aku hah? ) lalu memberikan nomer hpku.

Bener bbrp hari yang lalu Mima sms. Isi smsnya : Ass. Baroto bla3x (berupa promosi acara kampusnya, dan merayu daku untuk ikutan serta dan aq disuruh nyebarin infonya ke teman2ku di kampusku. Aku bales smsnya gini : udah tahu infonya, bla3x. Dpt sms lagi 2 kali dari Mima dan tidak saya balas. Malas.

Dan saya jadikan cerita di atas sebagai bahan obrolan ke teman kampus saat makan, dan ternyata disambut dengan baik oleh teman-teman saya.

Seorang teman yang kebetulan dirinya dan orang tuanya adalah seorang pebisnis sukses di Yogya memberitahu saya.

Teman : “Kamu terlalu kasar?”

Saya : “Kenapa?”

Teman : “Walaupun kamu tahu Mima hanya basa-basi karena lagi butuh tapi jangan langsung to the point gitu, dengarkan saja. Pokoknya kalo ada orang jualan ya dengerin aja, emang kayak gitu klo marketing, bull shit semuanya, baik2in pdhl krn lg butuh, yang sebenarnya mereka tidak peduli sama sekali dengan kamu. Mima bisa tersinggung.”

Sebenarnya perbincangan terjadi dalam waktu lama dan panjang karena berisi debat, saran, masukan, ejekan, dan ngakak. Namun saya mengambil kesimpulan buat orang yang bekerja sebagai marketing dan jualan jadi berbuat baiklah terhadap semua orang dan pelihara hubungan tersebut, jadi jangan saat butuh aja baru baik2 sikapnya, jadi saat Anda membutuhkan bantuan mereka/calon konsumen, Anda tidak akan mendapat pandangan negatif dari calon konsumen, walaupun tetep menurut saya dan teman2 marketing is bullshit.

PS : Klo ada temen saya yang dimaksud baca tulisan ini, maaf ya, khan nama sudah disamarkan. #membela diri

6 pemikiran pada “Marketing is Bullshit

  1. hahaha.. hayo looh. yang namanya mima ngacuung!!!
    yaa, kadang orang kalo mau ngenalin produk, nawarin jasa atau apapun kadang menggunakan berbagai macem cara. mungkin gimana kita nyikapinnya biar nggak nyinggung, itu juga jadi satu seni sendiri,
    hemm… ternyata kamu galak yo orangnya??

  2. yup memang pendekatan yang mendadak baik dan pas butuhnya aja itu bulshit… yang ada kita gak mau bantuin dan gak respect dengan orang itu, jadi gimana caranya biar cara masuknya halus? menurut saya yang namanya hubungan interpersonal itu adalah aset dan ini sangat penting. bangunlah hubungan semenjak dari awal kita bertemu dengan orang itu jadi pada saat kita benar-benar butuh nantinya kita gak di cap norak dan wagu. Pada saat kita sudah memiliki hubungan yang baik dengan orang dan kita butuh orang itu, dia tidak akan merasa aneh dan terganggu dengan kita bahkan dia akan dengan tulus membantu kita.

    kata salah 1 dosen saya di kelas, sebut saja namanya pak Y beliau bilang, ” ketika kita butuh seseorang mulailah dengan bertanya kepada orang yang kita butuhkan itu apa yang bisa kita bantu untuk orang itu, bukan dengan menyampaikan kebutuhan kita diawal. Orang yang kita tawari bantuan tentunya akan merasa senang. syukur-syukur dia akan bilang terima kasih sudah membantu saya dan apa yang bisa saya lakukan untuk kamu… nah posisi seperti ini tunggu apa lagi sampaikan keperluan kita apa dan orang akan membantu kita dengan lebih tulus karena kita sudah membantunya terlebih dulu.

    so kuncinya kalau kita gak pingin dikatakan aneh, norak dan wagu jalinlah dan pelihara hubungan yang baik dari awal dengan seseorang karena hubungan baik dengan orang merupakan aset dan investasi yang sangat besar untuk kita.

    perbanyaklah teman…. dengan memiliki banyak teman maka kita juga akan memiliki rejeki yang banyak.

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam maka akan saya hapus. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s